Di antara deretan kuliner kaki lima yang terus berevolusi, martabak pandan coklat menempati posisi unik. Ia bukan sekadar camilan malam, melainkan pengalaman rasa yang menggabungkan nostalgia, inovasi, dan aroma khas daun pandan. Begitu loyang martabak dibuka, wangi pandan yang hangat langsung menyergap, berpadu dengan coklat leleh yang menggoda. Dalam beberapa tahun terakhir, varian ini semakin populer, terutama di kalangan Gen Z dan Milenial yang gemar mencoba versi klasik dengan sentuhan modern.
Menariknya, martabak pandan coklat tidak lahir begitu saja. Ia adalah hasil adaptasi selera pasar yang semakin berani bereksperimen, tanpa meninggalkan akar tradisi martabak manis yang sudah dikenal puluhan tahun.
Dari Martabak Klasik ke Sentuhan Pandan

Martabak manis pada awalnya dikenal dengan adonan polos berwarna kuning keemasan, diisi mentega, gula, dan kacang. Seiring waktu, penjual mulai bermain dengan rasa dan warna. Pandan menjadi pilihan logis karena sudah lama akrab dengan lidah Indonesia.
Daun pandan dikenal memberikan aroma alami yang lembut namun khas. Saat diekstrak dan dicampurkan ke adonan martabak, hasilnya bukan hanya warna hijau yang menarik, tetapi juga sensasi wangi yang lebih dalam. Dari sinilah martabak pandan mulai dikenal, lalu dipadukan dengan coklat sebagai isian favorit lintas usia Cookpad.
Dalam praktiknya, transformasi ini tidak selalu mulus. Seorang penjual martabak fiktif bernama Pak Darto pernah bercerita, pada awal mencoba adonan pandan, beberapa pelanggan justru ragu karena warna hijau dianggap “tidak biasa”. Namun setelah satu gigitan, keraguan itu berubah menjadi pesanan ulang. Dari situ, martabak pandan coklat perlahan menjadi menu andalan.
Aroma Pandan sebagai Daya Tarik Utama
Jika harus menunjuk satu elemen pembeda utama, aroma adalah jawabannya. Pandan memiliki karakter wangi yang tidak tajam, tetapi menenangkan. Saat dipanggang di atas wajan panas, aroma tersebut semakin keluar dan bercampur dengan wangi adonan martabak yang matang sempurna.
Aroma ini memainkan peran penting dalam pengalaman makan. Banyak orang mengaku tertarik membeli martabak pandan coklat bahkan sebelum melihat bentuknya, hanya karena mencium wanginya dari kejauhan. Hal ini menunjukkan bahwa kelezatan kuliner tidak selalu soal rasa di lidah, tetapi juga sensasi sebelum makanan disantap.
Secara tidak langsung, aroma pandan juga memberi kesan “lebih alami” dibanding pewarna atau perisa buatan. Inilah yang membuat varian ini terasa lebih ramah bagi konsumen yang mulai peduli pada bahan makanan.
Coklat Leleh yang Menyempurnakan Rasa
Pandan mungkin menjadi bintang aroma, tetapi coklat adalah pengikat rasa. Isian coklat pada martabak pandan biasanya berupa meses, coklat batang serut, atau coklat pasta. Saat martabak masih panas, coklat meleleh dan meresap ke pori-pori adonan.
Perpaduan rasa yang dihasilkan cukup seimbang:
Manis lembut dari adonan pandan
Pahit-manis coklat yang tidak berlebihan
Gurih mentega yang mengikat keseluruhan rasa
Keseimbangan inilah yang membuat martabak pandan coklat jarang terasa enek, meski disantap dalam porsi besar. Beberapa penjual bahkan menyesuaikan takaran coklat agar tidak menutupi aroma pandan, melainkan mendukungnya.
Dalam banyak kasus, konsumen memilih varian ini sebagai “jalan tengah” antara martabak polos dan martabak dengan topping berlapis-lapis yang kadang terasa terlalu ramai.
Tekstur yang Menentukan Kualitas
Selain rasa dan aroma, tekstur memegang peranan penting. Martabak pandan coklat yang ideal memiliki permukaan berpori, bagian dalam empuk, dan pinggiran sedikit renyah. Tekstur ini tercipta dari teknik fermentasi adonan dan pengaturan api yang presisi.
Beberapa faktor yang memengaruhi tekstur antara lain:
Waktu fermentasi adonan, yang menentukan tingkat kelembutan.
Suhu wajan saat menuang adonan.
Takaran cairan pandan agar adonan tidak terlalu basah.
Penjual berpengalaman biasanya memiliki “feeling” tersendiri. Mereka tahu kapan adonan siap dituang dan kapan martabak harus diangkat. Inilah detail kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi sangat menentukan kualitas akhir.
Variasi Modern tanpa Menghilangkan Karakter
Meski martabak pandan coklat sudah kuat secara identitas, banyak penjual tetap melakukan inovasi. Namun, inovasi yang berhasil biasanya tidak berlebihan. Beberapa variasi yang sering ditemui antara lain:
Tambahan keju parut untuk sentuhan gurih
Coklat premium dengan kadar kakao lebih tinggi
Penggunaan pandan asli tanpa perisa tambahan
Menariknya, konsumen kini lebih selektif. Mereka tidak selalu mencari topping paling banyak, tetapi rasa yang seimbang. Hal ini membuat martabak pandan coklat versi “sederhana tapi niat” justru semakin diminati.
Dalam sebuah anekdot fiktif, seorang mahasiswa bernama Raka mengaku lebih memilih martabak pandan coklat polos saat lembur. Alasannya sederhana: rasanya konsisten dan tidak membuat cepat bosan. Cerita seperti ini mencerminkan perubahan pola konsumsi generasi muda yang mulai menghargai kualitas daripada sensasi semata.
Alasan Martabak Pandan Coklat Digemari Lintas Generasi

Popularitas martabak pandan coklat tidak hanya bertahan, tetapi juga meluas. Ada beberapa alasan mengapa varian ini bisa diterima oleh berbagai kelompok usia.
Pertama, rasanya familiar. Pandan dan coklat adalah kombinasi yang sudah dikenal sejak lama dalam berbagai kue tradisional maupun modern.
Kedua, tampilannya menarik tanpa terlihat “aneh”. Warna hijau pandan justru memberi kesan segar dan berbeda dari martabak biasa.
Ketiga, fleksibel untuk berbagai suasana. Martabak pandan coklat cocok sebagai camilan santai, teman ngobrol, hingga suguhan keluarga.
Ketiga faktor ini membuatnya tidak terjebak sebagai tren sesaat. Ia berkembang menjadi varian yang stabil dan punya basis penggemar setia.
Martabak Pandan Coklat dalam Lanskap Kuliner Kekinian
Di tengah maraknya dessert modern dan camilan impor, martabak pandan coklat menunjukkan bahwa kuliner lokal tetap relevan. Ia beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Banyak pelaku usaha kecil menjadikannya menu andalan karena bahan relatif mudah didapat dan prosesnya bisa distandardisasi.
Selain itu, kehadirannya di media sosial sering kali bukan karena gimmick berlebihan, melainkan visual sederhana yang menggugah selera. Potongan martabak dengan coklat meleleh dan warna hijau pandan yang kontras sudah cukup untuk menarik perhatian.
Hal ini menegaskan bahwa kekuatan utama martabak pandan coklat terletak pada kualitas rasa dan pengalaman, bukan sekadar tampilan.
Penutup
Pada akhirnya, martabak pandan coklat bukan hanya tentang adonan hijau dan isian coklat. Ia adalah contoh bagaimana kuliner tradisional bisa berkembang secara alami, mengikuti selera zaman tanpa kehilangan karakter. Aroma pandan yang menenangkan, coklat yang meleleh sempurna, serta tekstur empuk yang konsisten menjadikannya camilan yang selalu relevan.
Di tengah banyaknya pilihan makanan modern, martabak pandan coklat hadir sebagai pengingat bahwa inovasi terbaik sering kali lahir dari hal sederhana yang dikerjakan dengan serius. Bagi banyak orang, satu potong martabak ini bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan pengalaman rasa yang ingin diulang lagi dan lagi.
Baca fakta seputar : culinery
Baca juga artikel menarik tentang : Arepas Venezuela: Kelezatan Sederhana yang Menjadi Identitas Sebuah Bangsa




